Ransiki, Beritakasuari.com– Pengembangan energi terbarukan berbasis tenaga angin mulai mendapatkan pijakan di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Rencana tersebut menjadi salah satu hasil penting Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 16 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Kementerian Transmigrasi RI, Senin (1/9/2026).
FGD yang mengangkat tema “Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Turbin Angin Skala Kecil di Kawasan Transmigrasi Momiwaren” tersebut berlangsung di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Manokwari Selatan. Pertemuan melibatkan unsur pemerintah, organisasi perangkat daerah, serta pemangku adat untuk membahas peluang pemanfaatan energi angin bagi masyarakat.
Salah satu kesepakatan yang dihasilkan adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 2.000 Watt. Infrastruktur tersebut akan diarahkan sebagai proyek percontohan sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan energi bersih di wilayah Manokwari Selatan.
Dukungan terhadap rencana tersebut datang dari pemerintah distrik dan unsur masyarakat adat. Kepala Distrik Momiwaren Corneles Ainusi, S.H. bersama Kepala Distrik Ransiki Nedi Palobong Roreng, S.H. menyatakan kesiapan untuk membantu mengoordinasikan persoalan lahan dengan melibatkan kepala kampung serta dewan adat.
Dewan Adat Momiwaren juga menyampaikan dukungan terhadap pemanfaatan lahan untuk kepentingan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dukungan tersebut menjadi salah satu modal penting dalam memastikan pengembangan proyek tetap memperhatikan aspek sosial dan kepentingan masyarakat setempat.
Dari unsur pemerintah daerah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Manokwari Selatan Muh. Kasim Rumatiga, S.Hut., M.Si. menyambut baik gagasan pengembangan energi angin. Program ini dinilai memiliki peluang untuk membantu mengatasi keterbatasan pasokan listrik yang masih menjadi tantangan di sejumlah kawasan.
Potensi pemanfaatannya juga terbuka pada sektor perikanan. Energi listrik yang dihasilkan dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan produktif seperti pengoperasian pompa air hingga membantu proses pengeringan hasil tangkapan.
Sementara itu, Dinas Pariwisata melihat keberadaan sumber listrik di kawasan Pantai Bovo dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan destinasi wisata. Ketersediaan energi menjadi semakin relevan mengingat pembangunan gazebo di kawasan tersebut telah direncanakan dalam tahun anggaran 2027.
Penentuan lokasi proyek tidak dilakukan tanpa kajian. Tim TEP 16 sebelumnya telah melakukan survei serta pengukuran kecepatan angin di sejumlah titik. Hasil pengamatan menunjukkan kecepatan angin tertinggi mencapai 13,00 meter per detik, sedangkan rata-ratanya berada pada angka 8,97 meter per detik.
Berdasarkan hasil survei tersebut, Pantai Dembek di Distrik Momiwaren dan Pantai Bovo di Distrik Ransiki menjadi dua lokasi yang diprioritaskan untuk pengembangan PLTB. Kedua kawasan tersebut dinilai memiliki potensi dari sisi teknis sekaligus memperoleh dukungan masyarakat dan memiliki peluang untuk memberikan manfaat ekonomi.
Ketua Tim TEP 16, Prof. Dr. Agung Purniawan, S.T., M.Eng., mengingatkan bahwa pembangunan fasilitas energi tersebut harus diikuti dengan kesiapan masyarakat dalam mengelolanya. Menurutnya, keberlanjutan aset tidak boleh hanya bergantung pada tim pelaksana proyek.
“Tim hanya bertugas hingga pembangunan selesai. Kelangsungan dan perawatan kedepannya harus melibatkan SDM lokal dengan dukungan pemangku kebijakan yang terkait,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan sumber daya manusia lokal sejak tahap pembangunan hingga pengelolaan. Dengan pola tersebut, proyek PLTB diharapkan tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat dalam merawat dan memanfaatkan teknologi energi terbarukan.
Para peserta FGD sepakat menjadikan proyek percontohan tersebut sebagai pijakan untuk pengembangan energi terbarukan yang lebih luas di Manokwari Selatan. Apabila berjalan sesuai rencana, konsep serupa dapat diterapkan di lokasi lain dengan mempertimbangkan potensi energi serta kebutuhan masyarakat setempat.
Program ini juga diproyeksikan menjadi salah satu contoh kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan sumber energi alternatif. Pemanfaatan tenaga angin diharapkan mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Hasil pengembangan program tersebut rencananya akan dipresentasikan dalam acara puncak TEP UT Manokwari Selatan pada 16 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperlihatkan perkembangan proyek sekaligus membuka peluang replikasi energi terbarukan di wilayah lainnya.



