Manokwari, Beritakasuari.com – Pemerintah Kabupaten Manokwari memperkuat upaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kampung melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD). Program yang dijalankan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) tersebut diarahkan untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Dukungan anggaran dalam program tersebut mencapai Rp3,25 miliar. Dana tersebut terdiri atas Rp2,2 miliar untuk 22 kelompok masyarakat serta Rp1,05 miliar bagi tiga Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) yang berada di distrik prioritas.
Kepala DPMK Kabupaten Manokwari Aswandi mengatakan usulan program yang diajukan kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) telah mendapatkan persetujuan. Dengan demikian, bantuan dapat segera masuk ke rekening penerima untuk kemudian digunakan sesuai peruntukannya.
“Proses transfer dana bantuan langsung masuk ke rekening masing-masing penerima dan siap disalurkan dalam waktu dekat. Untuk 22 kelompok usaha, masing-masing menerima Rp100 juta guna pembuatan demplot percontohan,” kata Aswandi.
Menurutnya, bantuan untuk kelompok masyarakat dirancang sebagai modal pengembangan kegiatan usaha sekaligus sarana percontohan. Demplot diharapkan dapat menjadi media penerapan metode maupun teknologi yang sesuai dengan karakteristik komoditas dan potensi lokal.
Sementara itu, tiga BUMK memperoleh alokasi masing-masing Rp350 juta sebagai penguatan modal. Pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik usaha di wilayah masing-masing.
Di SP 1 Prafi Mulya, misalnya, BUMK Baju Bersama akan menggunakan dana tersebut untuk pengadaan mesin tanam sebagai bagian dari modernisasi sektor pertanian. Adapun BUMK di SP 2 diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pupuk hortikultura.
Sementara di SP 8, program pengembangan ayam petelur yang telah dirintis sejak tahun sebelumnya mulai menunjukkan hasil. Usaha tersebut kini telah memasuki tahap produksi sehingga diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat.
“Di SP 1 Prafi Mulya, melalui BUMK Baju Bersama, dana tersebut digunakan untuk pembelian mesin tanam. Sementara di BUMK SP 2, dana difokuskan pada penyediaan pupuk hortikultura. Di SP 8, pengembangan ternak ayam petelur yang digagas sejak tahun lalu kini sudah berproduksi,” jelas Aswandi.
Pemanfaatan dana TEKAD tidak diterapkan dengan pola seragam. DPMK Manokwari menyesuaikan intervensi berdasarkan potensi komoditas dan karakter ekonomi masing-masing distrik.
Distrik Manokwari Utara mendapatkan prioritas untuk pengembangan komoditas kakao. Distrik Masni diarahkan pada usaha peternakan ayam petelur, sedangkan Distrik Prafi memperoleh dukungan untuk penguatan UMKM, tanaman hortikultura, dan kelompok tani sayuran.
Pendekatan berbasis potensi wilayah tersebut diharapkan mampu membuat bantuan lebih produktif. Pemerintah daerah ingin agar anggaran yang diberikan tidak berhenti sebagai dukungan modal, tetapi berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
DPMK Manokwari juga menempatkan pengawasan sebagai bagian penting dalam pelaksanaan program. Tim pendamping akan dilibatkan untuk memastikan setiap penerima menggunakan dana sesuai rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Uang ini adalah modal awal. Kami menugaskan tim pendamping untuk melakukan pengawasan ketat dan menyeluruh agar pemanfaatan anggaran benar-benar tepat sasaran sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB). Harapan kita, petani tidak lagi hanya menjual barang mentah, melainkan mampu mengolahnya menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah ekonomi tinggi,” tegas Aswandi.
Dukungan terhadap keberlanjutan program juga disampaikan Wakil Bupati Manokwari Mugiyono. Ia mengapresiasi Kemendes PDT yang terus memberikan dukungan melalui Program TEKAD untuk masyarakat kampung di Kabupaten Manokwari.
Menurut Mugiyono, salah satu keunggulan program tersebut terletak pada pendekatannya yang menghubungkan bantuan dengan potensi nyata di setiap wilayah.
“Program TEKAD ini sangat menyentuh masyarakat kampung karena menyelaraskan bantuan anggaran dengan potensi riil daerah masing-masing,” ujar Mugiyono.
Dari 22 kelompok penerima bantuan, sebanyak 10 kelompok berada di Distrik Manokwari Utara, enam kelompok di Distrik Masni, dan enam kelompok lainnya berlokasi di Distrik Prafi.
Pengembangan kakao menjadi salah satu bidang usaha yang cukup dominan dalam program tersebut. Kondisi lahan dan karakteristik tanah di Manokwari dinilai mendukung pengembangan komoditas kakao sebagai salah satu potensi ekonomi masyarakat.
Meski bantuan telah disiapkan, Mugiyono mengingatkan para penerima agar tidak mengabaikan aspek administrasi dan pertanggungjawaban. Pengelolaan dana publik harus dilakukan secara transparan sehingga setiap penggunaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan.
“Setiap rupiah dari bantuan ini harus ada laporan pertanggungjawabannya. Jangan sampai setelah terima uang, laporannya tidak ada. Laporan yang baik dan transparansi kegiatan akan menjadi penilaian penting dari kementerian untuk kembali mengucurkan bantuan program pada tahun-tahun mendatang,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Manokwari berharap pelaksanaan TEKAD dapat memberikan efek ekonomi yang lebih luas. Penguatan kelompok usaha, BUMK, UMKM, petani, dan pelaku ekonomi lainnya diharapkan mampu menciptakan kegiatan produktif yang berkelanjutan di tingkat kampung.
Keberhasilan program juga sangat bergantung pada koordinasi antara Tim Koordinasi TEKAD, fasilitator, pendamping, pemerintah kampung, serta kader kampung. Sinergi tersebut diperlukan agar proses pendampingan, pelaksanaan usaha, pengawasan, hingga pelaporan dapat berjalan secara konsisten.
Dengan dukungan anggaran dan pendampingan yang terarah, Program TEKAD diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kemandirian ekonomi kampung di Kabupaten Manokwari secara berkelanjutan.



