Manokwari, Beritakasuari.com – Kasus kekerasan fisik yang melibatkan siswa senior dan junior di SMA Taruna Kasuari Nusantara akhirnya diselesaikan secara damai melalui mediasi yang melibatkan berbagai pihak. Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan yang berlangsung di lingkungan sekolah pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Proses perdamaian turut dihadiri perwakilan pihak sekolah, orang tua siswa, Dinas Pendidikan Papua Barat, hingga aparat kepolisian dari Polresta Manokwari. Kesepakatan damai ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan oleh perwakilan siswa kelas X dan kelas XI di hadapan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Kepala Bidang SMA/SMK dan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Papua Barat, Aljon Sinaga, menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi sekaligus menegaskan bahwa peristiwa tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting dalam pembinaan siswa di lingkungan sekolah.
“Kami dari Dinas Pendidikan turut menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Semoga insiden ini menjadi pembelajaran berharga untuk memperbaiki pembinaan dan masa depan anak-anak kita,” ujar Aljon.
Ia memastikan seluruh pihak telah menerima penyelesaian secara damai tanpa adanya tuntutan yang memberatkan salah satu pihak. Setelah tercapainya kesepakatan, seluruh siswa dijadwalkan kembali menjalani aktivitas asrama dan kegiatan belajar mengajar secara normal mulai Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Aljon, Dinas Pendidikan Papua Barat akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan di SMA Taruna Kasuari Nusantara, terutama terkait pengawasan aktivitas siswa di area sekolah maupun asrama. Penguatan pengawasan dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Angkatan V SMA TKN, Markus Waran, menjelaskan bahwa jalur kekeluargaan dipilih demi menjaga stabilitas psikologis dan konsentrasi belajar para siswa. Menurutnya, penyelesaian damai dianggap sebagai langkah terbaik agar persoalan tidak berkembang menjadi proses hukum yang berkepanjangan.
“Penyelesaian secara kekeluargaan dipilih agar persoalan tidak terus berlarut dan para siswa dapat kembali fokus belajar,” kata Markus.
Pandangan serupa juga disampaikan Ketua Paguyuban Angkatan IV, Yan Ayomi. Ia mengingatkan seluruh siswa agar menjadikan sekolah sebagai tempat membangun karakter, rasa saling menghormati, dan persaudaraan.
“Sekolah ini merupakan rumah bersama bagi anak-anak kita. Mereka harus belajar saling menjaga, menghormati, dan memperkuat hubungan persaudaraan,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius berbagai pihak mengingat lingkungan sekolah berasrama memiliki tanggung jawab besar dalam pembentukan karakter siswa. Evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pembinaan diharapkan mampu menciptakan suasana pendidikan yang lebih aman, sehat, dan kondusif bagi seluruh peserta didik.



