PWI Perkuat Kerja Sama Media Indonesia-China

Must read

Jakarta, Beritakasuari.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memperkuat hubungan dan peluang kolaborasi dengan industri media Tiongkok melalui kunjungan delegasi media arus utama Indonesia ke tiga kota besar, yakni Guangzhou, Shanghai, dan Chengdu.

Kunjungan yang berlangsung pada 1–7 Agustus 2026 tersebut tidak hanya menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antarmedia kedua negara. Delegasi juga mempelajari perkembangan industri berbasis teknologi tinggi, terutama dalam sektor otomotif, energi baru dan terbarukan, serta kesehatan.

Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Nurcholis MA Basyari mewakili Ketua Umum PWI Akhmad Munir dalam memimpin rombongan. Delegasi turut diperkuat Kepala Biro Beijing LKBN Antara Desca Lidya Natalia, Wakil Pemimpin Redaksi Republika Stevy Maradona, Wakil Redaktur Pelaksana Kompas Antonius Tomy Trinugroho, serta mantan anggota Dewan Pers sekaligus wartawan senior Asep Setiawan.

Kegiatan tersebut terlaksana atas undangan Nanfang International Friendship Association atau Perhimpunan Persahabatan Internasional Tiongkok Selatan. Sejak tiba di Bandara Internasional Guangzhou Baiyun pada 1 Agustus hingga kembali melalui Bandara Internasional Chengdu Tianfu pada 7 Agustus, rombongan mendapat pendampingan dari Jonathan Fu, Kepala Kantor Urusan Asia Tenggara Nanfang International Friendship Association, bersama wartawan senior Zhang Wenxi.

“Selamat datang di Tiongkok. Anda adalah tamu agung kami,” ujar Jonathan Fu dalam sejumlah kesempatan saat mendampingi delegasi Indonesia.

Selama berada di tiga kota tersebut, delegasi PWI mendapatkan kesempatan berdialog dengan pimpinan sejumlah media besar China. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan membahas berbagai perkembangan industri pers, terutama perubahan pola konsumsi informasi akibat kemajuan teknologi.

Di Guangzhou, rombongan juga menerima jamuan dari Li Yuanlin, Wakil Direktur Nanfang International Friendship Association yang sebelumnya menjabat Direktur Jenderal Komisi Urusan Luar Negeri Komite Tetap Kongres Rakyat Provinsi Guangdong. Sementara di Shanghai, delegasi dijamu Sekretaris Komite Partai sekaligus Direktur Utama Xinmin Evening News Liu Keli.

Transformasi digital menjadi salah satu isu utama yang mengemuka dalam rangkaian pertemuan. Media arus utama China menghadapi perubahan perilaku pembaca yang semakin mengandalkan perangkat digital dan platform media sosial untuk mendapatkan informasi.

Situasi tersebut mendorong perusahaan media di China melakukan inovasi agar tetap relevan tanpa meninggalkan karakter jurnalistik yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Wakil Sekretaris Komite Partai sekaligus Wakil Presiden dan Wakil Pemimpin Redaksi Yangcheng Evening News Press Group Hu Quan menjelaskan bahwa transformasi menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk menghadapi perubahan industri.

“Kami harus berinovasi untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di industri media. Kami tetap mempertahankan tradisi jurnalistik dengan menerbitkan koran harian sore kami. Namun, kami juga tampil di website dan main di platform aplikasi yang populer di kalangan pembaca guna memperluas audiens di media Sosial Tiongkok dan Internasional,” kata Hu Quan.

Yangcheng Evening News Group mengembangkan konsep integrasi antara media dan berbagai bidang industri. Media yang pertama kali terbit pada 1 Oktober 1957 tersebut memiliki fokus pemberitaan yang mencakup kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Perusahaan itu kini menjalankan operasi multiplatform dengan dukungan lebih dari 2.200 wartawan dan kreator konten, termasuk sekitar 400 editor. Selain bisnis media, Yangcheng Evening News Group juga mengelola Taman Budaya dan tengah mengembangkan Lingnan Digital Creative Building.

Direktur Departemen Komite Editorial dan Komunikasi Eksternal Yangcheng Evening News, Eva Jiang atau Jiang Zheng, menjelaskan bahwa salah satu inovasi mereka dilakukan melalui pengembangan platform PEARL.

Platform tersebut diklaim memiliki jangkauan lebih dari 210 juta orang. Sementara akun media sosial internasional PEARL disebut telah memiliki lebih dari 7 juta pengikut dengan Facebook, X, dan YouTube sebagai sejumlah platform utama.

Yangcheng Evening News juga membangun jaringan kerja sama dengan media internasional yang diklaim memiliki jangkauan lebih dari 18,74 juta audiens di luar negeri. Strategi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi media kini tidak lagi hanya mengandalkan distribusi koran, tetapi juga memanfaatkan jaringan digital dan kolaborasi lintas negara.

Pola serupa dijalankan Xinmin Evening News yang berada di bawah Shanghai United Media Group. Media yang berdiri pada 9 September 1929 tersebut terus mengembangkan model konvergensi agar tetap mampu menjangkau pembaca di tengah perubahan industri pers.

Wakil Pemimpin Redaksi Xinmin Evening News Du Min mengatakan karakter pemberitaan mereka tetap bertumpu pada kisah masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Namun, distribusi konten diperluas melalui berbagai platform digital di China maupun luar negeri.

“Ciri khas berita kami ialah memuat kisah-kisah kerakyatan dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Kami juga melakukan transformasi bisnis media berbasis internet dengan memanfaatkan berbagai platform aplikasi populer di China dan mancanegara,” ujar Du Min.

Transformasi tersebut turut mengubah struktur organisasi redaksi. Selain departemen berita cetak, Xinmin Evening News memiliki unit yang menangani berita internasional, media baru, dan naskah luar negeri. Setiap unit didukung jajaran direktur, deputi, dan editor.

Salah satu produk digital yang menjadi perhatian adalah program siaran langsung melalui TikTok yang diproduksi hingga 100 menit setiap hari. Direktur Departemen Redaksi Media Baru Xinmin Evening News Li Ranran menyebut program tersebut mampu menjangkau lebih dari 70 juta penonton.

“Kami memiliki kanal unggulan, antara lain live streaming TikTok, dengan produksi 100 menit per hari. Pemirsanya mencapai lebih dari 70 juta. Host-nya ialah wartawan senior yang berpengalaman siaran 20 tahun,” kata Li Ranran.

Program yang dimulai pada Agustus 2023 tersebut dirancang untuk menjangkau generasi muda, terutama kelompok usia 35–40 tahun. Materinya antara lain menghadirkan cerita dan testimoni warga asing yang tinggal, bekerja, maupun menjalankan usaha di Shanghai.

Sementara itu, Chengdu Media Group mengembangkan pendekatan komunikasi internasional melalui beragam konten mengenai kota tersebut. Selain menerbitkan majalah bilingual Hello Chengdu, kelompok media tersebut juga aktif mengadakan berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional.

Direktur Media Operation Center Chengdu International Communications Co, Ltd yang menaungi Chengdu Media Group, Amy Feng, mengatakan konten mereka diarahkan untuk memperkenalkan Chengdu kepada masyarakat dunia sekaligus membangun hubungan lintas budaya.

“Melalui konten-konten berkualitas, kami ingin mengabarkan kepada dunia mengenai Chengdu, baik tentang masyarakatnya, budaya, bisnis, dan daya tarik pariwisatanya. Kami juga mendorong pertukaran budaya dan kerja sama China dengan dunia internasional,” ujar Amy Feng.

Di bawah merek GoChengdu, Chengdu Media Group memiliki tim wartawan muda yang mayoritas perempuan. Mereka memproduksi konten dalam bentuk tulisan, grafis, audio, dan video yang disebarkan melalui berbagai kanal domestik maupun internasional.

Distribusi tersebut dilakukan melalui sejumlah platform, termasuk WeChat Official Account, WeChat Channels, Weibo, Douyin, Bilibili, Facebook, X, dan Instagram. Konten juga diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa, di antaranya Mandarin, Inggris, Jepang, Korea, dan Spanyol.

Strategi komunikasi internasional tersebut dikembangkan dari pola lama yang sekadar menyebarkan informasi menjadi model komunikasi dua arah. Chengdu Media Group secara aktif membangun hubungan dengan berbagai jaringan internasional, termasuk 36 kota kembar, 45 kedutaan besar dan konsulat, 55 diplomat utama, serta 47 organisasi internasional.

Model transformasi yang diterapkan ketiga kelompok media tersebut memberikan gambaran bahwa industri pers menghadapi tantangan yang relatif serupa di berbagai negara. Perubahan teknologi membuat media harus mampu memadukan kredibilitas jurnalistik dengan kemampuan mengembangkan distribusi konten secara digital.

Bagi delegasi PWI, pengalaman tersebut menjadi bahan penting untuk melihat peluang pengembangan industri media Indonesia. Pertukaran pengetahuan mengenai strategi digital, produksi konten, distribusi lintas platform, serta pengembangan jaringan internasional dapat menjadi bagian dari kerja sama antarmedia kedua negara.

Selain membahas transformasi industri, para pemimpin media China juga menyampaikan keterbukaan untuk memperluas hubungan dengan media Indonesia. Salah satu bentuk yang memungkinkan dikembangkan adalah pertukaran konten dan pengalaman jurnalistik.

“Kami terbuka untuk menjalin kerja sama, misalnya, dalam pertukaran konten,” demikian disampaikan para pimpinan media China dalam sejumlah pertemuan dengan delegasi Indonesia.

Kunjungan PWI ke Guangzhou, Shanghai, dan Chengdu pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda diplomasi media. Pertemuan tersebut membuka ruang untuk memperkuat jejaring antarmedia sekaligus memahami bagaimana perusahaan pers di China merespons disrupsi teknologi.

Kerja sama yang lebih intensif antara media Indonesia dan China diharapkan dapat berkembang melalui pertukaran konten, pengetahuan, pengalaman pengelolaan media digital, serta kolaborasi jurnalistik. Bagi media Indonesia, perkembangan tersebut dapat menjadi referensi dalam memperkuat inovasi tanpa mengesampingkan prinsip, kredibilitas, dan tradisi jurnalistik.

More articles

Latest article