Manokwari, Beritakasuari.com – Badan Pusat Statistik Papua Barat mencatat perkembangan inflasi yang relatif terkendali sepanjang Maret 2026, bertepatan dengan periode Ramadan hingga Idulfitri yang umumnya identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,05 persen, mencerminkan stabilitas harga di tengah dinamika permintaan musiman.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyampaikan bahwa kenaikan ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen yang meningkat tipis dari 110,04 pada Februari menjadi 110,10 pada Maret 2026. Sementara secara tahunan, inflasi mencapai 3,51 persen, menunjukkan tren kenaikan harga yang masih dalam batas wajar.
“Secara tahunan (year on year/yoy), Papua Barat mengalami inflasi sebesar 3,51 persen,” ungkapnya dalam rilis resmi di Manokwari.
Dari sisi kelompok pengeluaran, tekanan inflasi tertinggi berasal dari sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat kenaikan signifikan hingga 10,71 persen. Sebaliknya, kelompok pendidikan mengalami deflasi terdalam sebesar 3,99 persen, menjadi penahan laju inflasi secara keseluruhan.
Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, Papua Barat justru mencatat deflasi sebesar 0,58 persen, yang mengindikasikan adanya penurunan harga pada sejumlah komoditas tertentu dalam periode tersebut.
Kontributor utama inflasi bulanan berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil sebesar 0,08 persen. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan sandang menjelang hari raya, seperti celana jeans pria, busana muslim wanita, serta biaya jasa penjahit.
“Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini antara lain celana panjang jeans pria dengan andil 0,02 persen, serta baju muslim wanita dan ongkos jahit masing-masing sebesar 0,01 persen,” jelasnya.
Di sisi lain, kelompok makanan dan minuman justru mengalami deflasi sebesar 0,29 persen. Penurunan harga terjadi pada sejumlah komoditas utama seperti ikan cakalang, tomat, ikan tuna, hingga minyak goreng, yang turut menyeimbangkan tekanan inflasi selama periode tersebut.
Sementara itu, wilayah Papua Barat Daya menunjukkan dinamika yang berbeda dengan inflasi bulanan mencapai 1,04 persen dan inflasi tahunan sebesar 4,09 persen. Tekanan harga di wilayah ini terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan kontribusi signifikan.
Meskipun demikian, beberapa komoditas seperti cabai rawit, ikan tuna, dan ikan kembung juga tercatat memberikan andil terhadap deflasi, menunjukkan adanya fluktuasi harga yang cukup dinamis di tingkat regional.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang utama inflasi baik di Papua Barat maupun Papua Barat Daya. Kenaikan harga komoditas seperti beras, cabai rawit, dan tomat menjadi faktor dominan yang memengaruhi tren tersebut.
Dengan kondisi ini, stabilitas harga di Papua Barat selama Maret 2026 menunjukkan keseimbangan antara peningkatan permintaan musiman dan ketersediaan pasokan. Hal ini menjadi indikator penting bagi pengendalian inflasi daerah, terutama dalam menghadapi periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri.



