Kaimana, Beritakasuari.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat mendorong penguatan dokumentasi dan pengarsipan sebagai langkah penting untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya di tengah perubahan zaman.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Ja’far Werfete, mengatakan kekayaan budaya yang dimiliki daerah harus dicatat dan didokumentasikan secara sistematis agar tidak hilang dan tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Ja’far saat menghadiri penutupan Kegiatan Pembinaan Lembaga Adat lintas daerah se-Provinsi Papua Barat di Kaimana, Jumat (14/8/2026).
Menurut Ja’far, dokumentasi bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi bagian penting dari upaya menjaga identitas dan pengetahuan budaya masyarakat Papua.
“Kalau kebudayaan tidak didokumentasikan dan diarsipkan dengan baik, maka kita berisiko kehilangan warisan yang seharusnya dapat diwariskan kepada anak cucu kita,” kata Ja’far.
Papua Barat memiliki keragaman budaya yang sangat luas. Berbagai suku, tradisi, pengetahuan lokal, kesenian hingga praktik kehidupan masyarakat menjadi bagian dari kekayaan yang memiliki nilai sosial dan budaya sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata.
Ja’far menilai kekayaan tersebut perlu dirawat secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, lembaga adat, masyarakat, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Selain menjaga keberadaan tradisi, pelestarian budaya juga dinilai memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda Papua. Pengetahuan mengenai adat dan budaya lokal dapat menjadi fondasi untuk memperkuat jati diri sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah.
Karena itu, Ja’far mengajak seluruh pihak tidak hanya mempertahankan budaya yang sudah ada, tetapi juga mengembangkan dan memanfaatkannya secara bijaksana tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Mari secara bersama-sama melestarikan budaya sebagai warisan berharga yang akan menjadi identitas dan kebanggaan generasi Papua di masa depan,” ujarnya.
Dorongan serupa disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kaimana, Usman Fenetiruma. Ia menilai inventarisasi dan dokumentasi warisan budaya takbenda perlu dilakukan secara konsisten agar berbagai kekayaan budaya daerah memiliki catatan yang jelas dan dapat terlindungi.
Menurut Usman, pencatatan budaya juga penting untuk memastikan pengetahuan serta nilai yang terkandung dalam suatu tradisi tidak terputus ketika terjadi pergantian generasi.
Ia mencontohkan papeda yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda. Lebih dari sekadar makanan khas Papua, papeda memiliki nilai sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, termasuk kebersamaan, kesabaran, dan semangat gotong royong.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya berbentuk benda atau produk tradisional. Di dalamnya terdapat pengetahuan, filosofi, tata kehidupan, serta nilai sosial yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Usman pun mendorong lembaga adat di berbagai wilayah agar mengambil peran lebih aktif dalam menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal. Lembaga adat dinilai memiliki posisi penting karena bersentuhan langsung dengan masyarakat dan memiliki pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Budaya tidak hanya berbicara tentang tradisi, tetapi juga tentang nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter masyarakat, oleh sebab itu pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama,” kata Usman.
Penguatan dokumentasi dan inventarisasi diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun basis data kebudayaan yang lebih terarah di Papua Barat. Data tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, pengembangan pariwisata, hingga penyusunan kebijakan pelestarian budaya.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, upaya mendokumentasikan warisan budaya menjadi semakin penting. Tradisi yang selama ini diwariskan secara lisan maupun melalui praktik kehidupan masyarakat perlu memiliki arsip yang dapat menjadi rujukan bagi generasi masa depan.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, masyarakat, akademisi, pelaku budaya dan generasi muda menjadi faktor penting agar kekayaan budaya Papua Barat tidak hanya bertahan, tetapi juga terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan akar identitasnya.



