Manokwari, Beritakasuari.com – Badan Pusat Statistik mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tahunan sebesar 3,51 persen pada Maret 2026. Data ini didasarkan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tercatat di angka 110,10, dengan kenaikan paling signifikan berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa rekreasi.
Rincian laporan menunjukkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat 10,71 persen, sedangkan sektor rekreasi, olahraga, dan budaya naik 6,47 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sektor makanan, minuman, dan tembakau juga menunjukkan tren kenaikan sebesar 5,47 persen, diikuti kelompok perumahan, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 4,34 persen. Kelompok restoran, pakaian, kesehatan, dan layanan informasi juga mengalami kenaikan namun lebih moderat.
Meskipun mayoritas kategori pengeluaran meningkat, beberapa sektor justru mencatat penurunan harga. Pendidikan menjadi sektor dengan deflasi tertinggi, turun 3,99 persen, diikuti perlengkapan rumah tangga dan transportasi masing-masing turun 0,96 persen dan 0,25 persen.
Secara bulanan, harga-harga di Papua Barat relatif stabil dengan inflasi tipis 0,05 persen. Namun, perhitungan tahun kalender menunjukkan deflasi 0,58 persen, mencerminkan tren stabilitas harga di wilayah ini.
Fenomena ini mencerminkan dinamika inflasi yang dipengaruhi kombinasi kenaikan harga barang konsumsi tertentu dan penurunan sektor pendidikan serta transportasi. Laporan BPS menekankan pentingnya pengawasan dan strategi kebijakan ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat sambil memitigasi tekanan inflasi di masa mendatang.



