Manokwari, Beritakasuari.com – Suasana khidmat menyelimuti perayaan Jumat Agung di Manokwari, ketika umat Katolik berkumpul untuk mengenang penyaliban dan wafat Yesus Kristus di Bukit Golgota. Ibadah yang berlangsung di Gereja Katolik Imanuel Sanggeng dimulai pada pukul 15.00 WIT dan diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh jemaat yang memadati gereja.
Rangkaian liturgi berjalan tertib dan sarat makna. Dalam khotbahnya, Philipus Sedik menjelaskan bahwa perayaan Jumat Agung terdiri dari tiga bagian utama, yaitu liturgi Sabda, penghormatan salib, serta komuni. Setiap bagian memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai refleksi iman umat dalam mengenang pengorbanan Kristus.
Ia juga mengajak umat untuk memahami peristiwa Jumat Agung dalam keterkaitannya dengan Minggu Palma. Pada momen tersebut, Yesus disambut dengan sukacita saat memasuki Yerusalem, namun dalam waktu singkat, sambutan itu berubah menjadi penolakan.
“Salibkan Dia, salibkan Dia.”
Ungkapan tersebut menjadi refleksi mendalam tentang sifat manusia yang mudah berubah. Dalam penjelasannya, ia menyoroti kecenderungan manusia yang cepat bersukacita saat menerima berkat, namun mudah goyah dan bahkan menyalahkan Tuhan ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, realitas kehidupan menunjukkan bahwa manusia sering kali tidak konsisten dalam kebaikan dan kebenaran. Godaan untuk mengikuti keinginan pribadi yang tampak lebih menarik kerap mengalahkan komitmen spiritual yang seharusnya dijaga.
“Manusia mudah tergoda dan jatuh dalam hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan,” ujarnya.
Lebih jauh, pesan Paskah tahun ini yang diambil dari Injil Injil Matius 5:16 mengajak umat untuk menunjukkan perbuatan baik sebagai wujud nyata iman. Dengan demikian, kehidupan sehari-hari diharapkan menjadi refleksi kemuliaan Tuhan melalui tindakan nyata.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tantangan, umat diajak untuk tetap setia memikul “salib” masing-masing, baik dalam bentuk penderitaan, sakit, maupun tanggung jawab hidup. Kesetiaan dalam menghadapi beban tersebut dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman yang tidak terpisahkan.
“Semoga setiap kita yang sedang memikul salib yang berat tidak tergoda untuk melepaskannya, sebab Tuhan sendiri turut memikul salib kita,” tuturnya.
Ibadah berlangsung dengan tertib dan aman, didukung oleh pengamanan aparat kepolisian yang turut membantu kelancaran aktivitas di sekitar gereja. Momentum ini tidak hanya menjadi peringatan religius, tetapi juga sarana refleksi mendalam bagi umat untuk memperkuat iman, keteguhan, dan komitmen dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai spiritual.



