Manokwari, Beritakasuari.com – Kepedulian terhadap lingkungan menjadi ruang bersama bagi masyarakat lintas agama di Kabupaten Manokwari. Pesan tersebut diwujudkan melalui aksi penanaman pohon yang mempertemukan unsur pemerintah, gereja, masjid, tokoh agama, dan masyarakat.
Kementerian Agama Kabupaten Manokwari bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Papua (PGGP) Kota Manokwari menggelar aksi Ekoteologi dengan menanam 100 bibit pohon di dua lokasi rumah ibadah, Rabu (7/10/2026).
Penanaman dilakukan di lokasi pembangunan Gereja GKI Sion Anday serta Masjid Al Fatah, Kampung Buton. Kegiatan tersebut melibatkan ASN Kemenag Manokwari, jajaran PGGP, tokoh lintas agama, penyuluh agama, hingga masyarakat Kampung Wamesa.
Beragam jenis tanaman ditanam dalam kegiatan tersebut, di antaranya matoa, alpukat, mangga, palem, dan kamboja Jepang.
Kepala KUA Distrik Manokwari Selatan, M. Ridwan, yang mewakili Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Manokwari, menjelaskan bahwa ekoteologi tidak berhenti pada pemahaman keagamaan. Konsep tersebut mendorong umat menerjemahkan keimanan melalui tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Menurut Ridwan, kepedulian terhadap bumi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan air secara bijak, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menanam dan merawat pohon.
“Menjaga lingkungan bukan hanya untuk kita hari ini. Apa yang kita tanam dan rawat sekarang, diharapkan memberi manfaat bagi anak cucu dan generasi Manokwari di masa depan,” ujarnya.
Ia juga melihat rumah ibadah memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan lingkungan. Pesan tentang tanggung jawab manusia dalam merawat ciptaan Tuhan dapat disampaikan sekaligus diterapkan melalui kegiatan nyata yang melibatkan jemaat, umat, dan masyarakat sekitar.
Ketua PGGP Kota Manokwari, Pdt. Charles Tethol Mansnandifu, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, persoalan perubahan iklim membutuhkan respons konkret, bukan hanya pembicaraan atau seruan.
“Ketika kita menanam pohon, kita sedang menanam kebaikan untuk anak cucu. Jaga alam, maka alam menjaga manusia; jaga laut, maka laut memelihara kehidupan. Jika kita terus merusak, yang diwariskan bukan kesejahteraan, melainkan air mata,” tegasnya.
Charles berharap 100 pohon yang ditanam dapat menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga lingkungan sekaligus memperkuat persaudaraan masyarakat. Ia mendorong agar gerakan serupa diperluas dengan melibatkan lebih banyak rumah ibadah, generasi muda, serta masyarakat dari berbagai latar belakang.
Pihak Gereja GKI Sion Anday turut menyambut baik penetapan lokasi pembangunan gereja sebagai salah satu titik penanaman. Selain menjadi bagian dari gerakan penghijauan, momentum tersebut diharapkan semakin memperkuat dukungan masyarakat terhadap proses pembangunan rumah ibadah.
Sementara itu, warga Kampung Buton menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang berlangsung di lingkungan mereka. Harapan disampaikan agar pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Aksi tersebut menunjukkan bahwa kerukunan antarumat beragama dapat diwujudkan melalui kegiatan bersama yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Gereja dan masjid menjadi titik perjumpaan untuk satu tujuan yang sama, yakni menjaga lingkungan dan mewariskan kehidupan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Pohon-pohon yang ditanam mungkin belum memberikan manfaat langsung dalam waktu singkat. Namun, perawatan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadikannya bagian dari warisan ekologis bagi masyarakat Manokwari pada masa mendatang.



