Perjuangan Kontingen Papua Barat di Peksiminas XVIII

Must read

Jember, Beritakasuari.com – Perjalanan panjang dari Papua Barat menuju Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan mahasiswa yang membawa nama daerah dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII 2026.

Bagi Rey Talahatu, salah satu peserta asal Papua Barat, rasa syukur menjadi hal pertama yang muncul ketika akhirnya tiba di lingkungan Universitas Jember (Unej), lokasi penyelenggaraan ajang seni mahasiswa tingkat nasional tersebut.

Kontingen Papua Barat harus menempuh perjalanan laut selama empat hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jember. Mereka berangkat dari Pelabuhan Manokwari pada Rabu (2/9/2026), kemudian melewati sejumlah pelabuhan transit, mulai dari Sorong, Ambon, Bau-Bau, Makassar hingga Tanjung Perak, Surabaya.

Dari Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Jember untuk mengikuti Peksiminas XVIII yang berlangsung pada 8-10 September 2026.

Perjalanan ribuan kilometer tersebut tentu menguras tenaga. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan tekad para mahasiswa Papua Barat untuk memberikan penampilan terbaik. Kontingen tersebut mengikuti sembilan tangkai seni dalam kompetisi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak belasan mahasiswa Papua Barat hadir membawa karya sekaligus identitas budaya daerah. Mereka bersaing dengan kontingen dari 32 provinsi dalam 15 tangkai seni yang mencakup berbagai bidang, seperti puisi, monolog, tari, menyanyi, fotografi hingga cerpen strip.

Bagi Rey, kesempatan tampil di tingkat nasional merupakan pengalaman yang sangat berarti. Ia merasa bangga dapat menjadi bagian dari kontingen yang membawa nama Papua Barat, terlebih kesempatan mengikuti kompetisi seni nasional seperti Peksiminas tidak selalu datang setiap saat.

Semangat serupa ditunjukkan Yusanna Buai. Ia mengaku bersyukur dapat bergabung dengan kontingen Papua Barat dan tampil di hadapan mahasiswa dari berbagai provinsi. Persiapan yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga mencakup proses latihan dan penyelesaian karya sebelum berangkat ke Jember.

Dosen pendamping kontingen Papua Barat, Nelson Mansoara, mengatakan persiapan menghadapi Peksiminas XVIII telah dilakukan jauh sebelumnya. Menurut dia, proses tersebut bahkan berlangsung sekitar satu tahun dan dimulai dari pelaksanaan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida).

Seleksi di tingkat daerah menjadi tahapan penting untuk menemukan mahasiswa yang memiliki kemampuan terbaik. Mereka kemudian dikumpulkan dari sejumlah perguruan tinggi untuk membentuk kontingen Papua Barat yang bertanding di tingkat nasional.

Nelson menilai panjangnya perjalanan dari Papua Barat tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan. Ia memastikan para peserta tetap datang dengan keyakinan untuk bersaing dan memberikan penampilan maksimal.

Ketua Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Papua Barat Baso Daeng mengungkapkan bahwa perjuangan kontingen tidak berhenti pada perjalanan menuju Jember. Setelah kompetisi selesai, mahasiswa masih harus menempuh perjalanan laut selama enam hari untuk kembali ke Papua Barat.

“Anak-anak kami rela berlayar beberapa hari dari Manokwari menuju ke Surabaya, kemudian meneruskan perjalanan darat menuju Jember demi mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional,” katanya.

Meski belum membawa pulang medali, para mahasiswa Papua Barat tetap melihat Peksiminas sebagai pengalaman penting. Kesempatan bertemu dengan peserta dari berbagai daerah, memperkenalkan budaya, sekaligus menguji kemampuan di panggung nasional menjadi nilai tersendiri bagi mereka.

Perjalanan menuju Peksiminas tahun ini juga diwarnai persoalan transportasi yang dialami sejumlah kontingen. Letusan Gunung Anak Krakatau sempat mengganggu penerbangan di beberapa wilayah sehingga sejumlah peserta mengalami pembatalan atau penundaan perjalanan.

Salah satu yang terdampak adalah kontingen Sumatera Barat. Amanda Salsabila, mahasiswa Universitas Andalas Padang, bersama rekannya semula dijadwalkan berangkat pada 6 September 2026. Mereka berharap dapat tiba sebelum pembukaan Peksiminas pada 8 September.

Namun, gangguan penerbangan membuat rombongan tersebut harus mencari alternatif perjalanan. Mereka kemudian menempuh jalur darat selama sekitar dua hari untuk mencapai Jember.

Kondisi serupa dialami peserta dari sejumlah daerah lainnya. Panitia mencatat sebanyak 34 peserta melaporkan keterlambatan kedatangan akibat situasi darurat perjalanan tersebut.

Universitas Jember bersama BPSMI kemudian melakukan penyesuaian agar kendala transportasi tidak serta-merta menghilangkan kesempatan peserta untuk bertanding. Peserta yang masih memungkinkan hadir diberikan kesempatan tampil pada jadwal berikutnya, termasuk ditempatkan pada urutan terakhir.

Bagi peserta yang benar-benar tidak dapat hadir secara langsung, panitia menyediakan fasilitas mengikuti perlombaan secara daring. Tercatat empat peserta menggunakan fasilitas tersebut.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unej sekaligus Ketua BPSMI Jawa Timur Fendi Setyawan mengatakan panitia berkoordinasi dengan BPSMI Pusat dan dewan juri untuk mencari solusi terhadap peserta yang terdampak kendala perjalanan.

Bahkan, peserta dari Bengkulu dan Bangka Belitung tetap diberi ruang untuk tampil meski baru tiba sehari sebelum Peksiminas berakhir.

Peksiminas XVIII 2026 diikuti 894 mahasiswa, 470 pendamping dan 460 ofisial dari 32 provinsi. Sebanyak 15 tangkai seni dipertandingkan, meliputi seni pertunjukan, sastra hingga seni rupa.

Kehadiran akademisi dan praktisi sebagai bagian dari dewan juri turut memberikan dimensi lain dalam kompetisi tersebut. Peksiminas bukan hanya menjadi ruang untuk menguji kemampuan mahasiswa, tetapi juga mempertemukan dunia pendidikan dengan perkembangan seni dan industri kreatif.

Pertemuan mahasiswa dari Aceh hingga Papua Barat juga menjadikan ajang tersebut sebagai ruang pertukaran budaya. Para peserta tidak hanya datang untuk mengejar prestasi, tetapi juga berkenalan, berbagi pengalaman, memperkenalkan kekayaan daerah, serta membangun jejaring.

Di panggung Peksiminas, keberagaman Indonesia hadir melalui berbagai bentuk karya. Tradisi daerah, eksplorasi artistik dan pengalaman personal para mahasiswa diterjemahkan menjadi karya yang kemudian dipertontonkan di hadapan publik dan peserta dari berbagai penjuru Tanah Air.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek Beny Bandanadjaja menilai seni memiliki kekuatan untuk membangun kebanggaan, mempererat persatuan dan melahirkan inspirasi.

Menurutnya, Peksiminas tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan mahasiswa agar terus mengembangkan minat, bakat dan kreativitas sekaligus menghasilkan karya yang memberikan dampak positif.

Perjuangan para mahasiswa, termasuk kontingen Papua Barat, menjadi bagian penting dari proses tersebut. Perjalanan panjang, latihan, persiapan karya hingga keberanian tampil di panggung nasional merupakan pengalaman yang tidak dapat diukur hanya melalui perolehan medali.

Bagi mahasiswa Papua Barat, Peksiminas XVIII menjadi bukti bahwa keterbatasan jarak dan beratnya perjalanan tidak harus membatasi kesempatan untuk berkarya. Mereka datang dari ujung timur Indonesia, membawa identitas daerah dan semangat untuk menunjukkan kemampuan di panggung nasional.

Berakhirnya Peksiminas XVIII di Jember pun tidak berarti berakhirnya perjalanan para mahasiswa dalam berkesenian. Pengalaman yang diperoleh selama kompetisi diharapkan menjadi bekal untuk terus berkarya, mengembangkan potensi dan ikut menjaga keberagaman budaya Indonesia melalui seni.

More articles

Latest article