Manokwari, Beritakasuari.com – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat kembali menegaskan komitmennya dalam membangun dunia pendidikan yang terbuka dan merangkul seluruh lapisan masyarakat di Tanah Papua. Melalui sekolah-sekolah yang dikelola Muhammadiyah, semangat keberagaman dan nilai kemanusiaan terus diperkuat tanpa membedakan latar belakang agama maupun suku.
Ketua PWM Papua Barat, Dr. Mulyadi Djaya, menyampaikan bahwa Muhammadiyah hadir bukan untuk menciptakan batas perbedaan, melainkan membangun ruang persaudaraan melalui pendidikan yang inklusif dan universal. Pernyataan tersebut disampaikan saat pelaksanaan Rakerwil II sekaligus peresmian SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari di kawasan Bukit Arfai pada Kamis, 28 Mei 2026.
“Melalui pendidikan, Muhammadiyah di Papua ingin menghadirkan nilai kemanusiaan yang menyatukan semua golongan,” ujar Dr. Mulyadi.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen siswa yang menempuh pendidikan di SMAMCO Manokwari merupakan anak-anak asli Papua dengan latar belakang non-Muslim. Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana sekolah Muhammadiyah mampu diterima luas oleh masyarakat Papua.
SMAMCO sendiri dibangun dengan menggabungkan nilai pendidikan modern dan budaya lokal masyarakat Arfak yang dikenal melalui filosofi “Igya Ser Hanjob”, yakni komitmen menjaga alam dan kelestarian lingkungan. Konsep tersebut menjadikan sekolah tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan kepedulian terhadap budaya lokal.
Perjalanan SMAMCO Manokwari berkembang terbilang sangat cepat. Sekolah yang awalnya memanfaatkan bangunan bekas klinik itu kini telah berkembang menjadi institusi pendidikan yang mendapat perhatian pemerintah melalui program Unit Sekolah Baru (USB).
Keberhasilan pembangunan sekolah ini juga menarik perhatian banyak pihak. Sebanyak 13 gedung berhasil diselesaikan hanya dalam waktu empat bulan meski dibangun di atas kawasan bukit berbatu karang yang cukup sulit. Pencapaian tersebut bahkan lebih cepat dari target awal selama sepuluh bulan.
“Kerasnya batu karang tidak mampu mengalahkan tekad kader Muhammadiyah dalam membangun pendidikan,” kata Dr. Mulyadi di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Selain meresmikan SMAMCO Manokwari, Muhammadiyah Papua Barat juga memperluas jaringan pendidikan melalui sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah baru di berbagai daerah. Beberapa di antaranya yakni SD Muhammadiyah Kaimana, SMA Muhammadiyah Maritim Kaimana, SMA Muhammadiyah Saintek Fakfak, hingga TK ABA ‘Aisyiyah 3 Manokwari.
PWM Papua Barat menargetkan seluruh kabupaten di wilayah Papua Barat telah memiliki sekolah Muhammadiyah pada tahun 2027. Saat ini, pengembangan sekolah masih difokuskan untuk wilayah Manokwari Selatan dan Teluk Wondama yang tengah dipersiapkan.
Dalam agenda tersebut, Muhammadiyah juga menyatakan kesiapan mengelola program Sekolah Terintegrasi yang akan dibangun di atas lahan seluas 54 hektare milik Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (UNIMUTU).
Acara peresmian turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Abdul Mu’ti, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Irwan Akif, Gubernur Papua Barat, Bupati Manokwari, tokoh adat, serta sejumlah kepala suku di Papua Barat. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi simbol dukungan terhadap pengembangan pendidikan inklusif dan berkelanjutan di Tanah Papua.



