Sorong, Beritakasuari.com – Kematian warga berinisial AK, 23 tahun, telah menimbulkan kemarahan di tengah massa. Mereka dengan tegas memblokade jalan Trans-Papua Barat Daya di Kilometer 17 pada hari Minggu (16/2/2025), sebagai tindakan desakan kepada pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku penganiayaan.
Aksi pemblokadean jalan ini dimulai sejak sekitar pukul 12.00 Waktu Papua, mengakibatkan terhambatnya arus lalu lintas dari dan menuju Kabupaten Sorong, Maybrat, serta Sorong Selatan. Ketegangan semakin meningkat ketika massa menghadang rombongan Korem Praja Vira Tama yang hendak mengikuti rapat di Polda Papua Barat Daya. Hingga saat ini, situasi di lokasi pemblokadean jalan masih memanas.
Aparat gabungan TNI dan Polri terus berupaya meredam ketegangan serta melakukan negosiasi dengan para pemblokade. Leonard Idjie, selaku Kuasa Hukum Keluarga AK, menekankan pentingnya pihak penegak hukum untuk mengungkap secara menyeluruh kasus kematian AK demi mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang. “Kami tidak akan membuka blokade sebelum pelaku penganiayaan AK ditangkap dan diproses sesuai hukum. Kami menuntut keadilan bagi AK,” tegas Idjie.
AK diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang anggota TNI pada Jumat sebelumnya. Dua hari setelah kejadian tersebut, AK dinyatakan meninggal dunia saat sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah JP Wanane.
Idjie menegaskan bahwa jika AK bersalah, seharusnya dia diserahkan kepada pihak berwajib dan bukan dianiaya hingga menyebabkan kematian. Informasi yang diterima juga menunjukkan bahwa pelaku penganiayaan diduga merupakan oknum TNI.
Komandan Korem Praja Vira Tama, Brigadir Jenderal Totok Sutriono, mengungkapkan bahwa kasus ini sedang ditangani oleh Detasemen Polisi Militer Kodam Kasuari dan telah berkoordinasi dengan Polres Sorong untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan kronologi lengkap dari dugaan penganiayaan ini. Kami juga telah berkoordinasi dengan Polres Sorong untuk melakukan mediasi dengan keluarga korban,” jelas Totok.
Meskipun penjelasan dari pihak berwenang telah disampaikan, namun warga tetap mempertahankan blokade jalan sebagai bentuk tuntutan atas kepastian penyelesaian kasus ini.
Hingga saat ini, kondisi keamanan dan ketertiban di lokasi kejadian masih dapat dikatakan relatif kondusif. Semua pihak berharap agar kasus kematian AK dapat diungkap dengan transparansi dan keadilan, serta menyerukan agar semua pihak tetap tenang dan menjaga keamanan serta ketertiban di wilayah tersebut.