Fish Finder Bantu Nelayan Aimasi Tingkatkan Hasil Tangkapan

Must read

Manokwari, Beritakasuari.com  -Pemanfaatan teknologi mulai menjadi solusi bagi nelayan tradisional di Papua Barat yang selama ini menghadapi ketidakpastian dalam menentukan lokasi penangkapan ikan. Kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap hasil tangkapan, tetapi juga meningkatkan waktu melaut dan konsumsi bahan bakar.

Melihat persoalan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB) memberikan dukungan teknologi kepada Kelompok Nelayan Mina Bahari Aimasi Sejahtera (MBAS) di Kampung Aimasi, Kabupaten Manokwari.

Dukungan tersebut berupa perangkat Fish Finder Garmin GPSMAP 585 Plus yang diharapkan dapat membantu nelayan menemukan lokasi potensial penangkapan ikan secara lebih akurat sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan melaut.

Penyerahan perangkat merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. Program tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Ketua Pelaksana Program UMPB, Sigit Prafiadi, menjelaskan bahwa sebelum memperoleh dukungan teknologi, anggota kelompok nelayan MBAS masih banyak mengandalkan pengalaman, insting, serta tanda-tanda alam ketika menentukan lokasi penangkapan ikan.

Metode tersebut membuat tingkat ketepatan dalam menemukan lokasi ikan relatif rendah. Akibatnya, nelayan harus menghabiskan waktu lebih lama di laut dengan biaya operasional yang tidak sedikit.

“Kondisi eksisting di lapangan menunjukkan bahwa nelayan menghabiskan 60 hingga 70 persen waktu melaut dan konsumsi BBM hingga 80 liter per perjalanan hanya untuk proses pencarian ikan.”

Sigit menyebut hasil tangkapan nelayan selama ini juga cukup fluktuatif, berkisar antara 15 hingga 50 kilogram dalam satu perjalanan. Situasi tersebut membuat pendapatan nelayan belum stabil dan kegiatan penangkapan ikan menjadi kurang efisien.

Kehadiran Fish Finder Garmin GPSMAP 585 Plus diharapkan mampu mengubah pola tersebut. Perangkat ini memiliki sejumlah fitur navigasi dan pendeteksian bawah air yang dapat membantu nelayan memperoleh informasi mengenai kondisi perairan secara lebih akurat.

Teknologi tersebut dilengkapi sistem navigasi GPS, GLONASS, dan BeiDou serta sonar CHIRP dan ClearVü. Perangkat juga dapat menyimpan hingga 12.000 titik lokasi atau waypoint sehingga titik-titik potensial yang telah ditemukan dapat ditandai dan digunakan kembali.

Dengan dukungan perangkat tersebut, nelayan dapat merencanakan rute perjalanan secara lebih terukur sekaligus memperoleh informasi mengenai kedalaman perairan dan keberadaan objek bawah air yang terdeteksi sonar.

Sigit berharap penggunaan teknologi tersebut dapat memangkas waktu pencarian ikan hingga 40 persen dan mengurangi konsumsi BBM sekitar 20 persen. Efisiensi operasional itu diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas serta pendapatan keluarga nelayan.

“Harapannya, dengan bantuan teknologi ini, nelayan dapat mengurangi waktu pencarian hingga 40 persen, menghemat biaya BBM hingga 20 persen, dan meningkatkan hasil tangkapan secara signifikan.”

Program pemberdayaan tersebut tidak berhenti pada pemberian perangkat. Tim UMPB juga memberikan pelatihan kepada anggota kelompok MBAS agar mampu mengoperasikan Fish Finder, memahami informasi yang ditampilkan sonar, serta menerapkan teknologi tersebut dalam kegiatan penangkapan ikan sehari-hari.

Pendampingan lapangan turut disiapkan untuk memastikan teknologi dapat digunakan secara tepat dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi kelompok nelayan.

Bagi nelayan MBAS, bantuan tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi kegiatan melaut. Mereka berharap penggunaan teknologi dapat menekan pengeluaran operasional sekaligus membantu memperoleh hasil tangkapan yang lebih konsisten.

Langkah UMPB ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi tidak harus berhenti di pusat-pusat perkotaan. Ketika dipadukan dengan pengetahuan lokal dan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok nelayan di Kampung Aimasi juga memperlihatkan bagaimana inovasi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Selain meningkatkan produktivitas, pemanfaatan teknologi perikanan diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga nelayan dan mendukung pembangunan masyarakat pesisir Papua Barat secara berkelanjutan.

More articles

Latest article