Manokwwari, Beritakasuari.com – Kontingen Papua Barat Daya menutup partisipasinya pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV dengan menggelar ibadah syukur dan acara perpisahan bersama orang tua asuh di Asrama Mansinam, Manokwari, Senin (29/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ungkapan rasa syukur atas capaian membanggakan yang berhasil diraih sebelum rombongan kembali ke Sorong.
Acara dihadiri Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Origenes Ijie, selaku orang tua asuh kontingen, bersama para ofisial, pelatih, peserta, serta sejumlah tamu undangan yang selama penyelenggaraan Pesparawi memberikan dukungan kepada kontingen Papua Barat Daya.
Sebagai provinsi termuda di Indonesia, Papua Barat Daya berhasil mencatat sejarah dengan menempati posisi runner-up juara umum pada Pesparawi Nasional XIV. Prestasi tersebut semakin lengkap setelah kontingen mengoleksi dua gelar Champion, delapan medali emas, dan dua medali perak dari berbagai kategori perlombaan.
Ketua Kontingen Papua Barat Daya, Pdt. Simon Apolo, menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan anugerah Tuhan sekaligus buah dari kerja keras seluruh tim yang telah menjalani proses persiapan selama berbulan-bulan.
“Yang telah kita lakukan ini merupakan kebanggaan dan kemuliaan bagi Tuhan. Sebagai provinsi termuda yang hadir dalam Pesparawi Nasional XIV, kita langsung berada pada posisi runner-up juara umum. Ini menjadi kebanggaan besar bagi Papua Barat Daya, tetapi semuanya terjadi karena kemurahan Tuhan,” ujarnya.
Menurut Simon, keberhasilan itu tidak mungkin diraih tanpa dedikasi para peserta, pelatih, ofisial, para hamba Tuhan, serta dukungan berbagai pihak yang mendampingi kontingen sejak tiba di Manokwari hingga seluruh rangkaian perlombaan selesai dilaksanakan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, yang menjadi orang tua asuh bagi kontingen selama berada di Manokwari. Berbagai kebutuhan peserta, mulai dari penyambutan, transportasi, konsumsi hingga fasilitas penunjang lainnya, diberikan dengan penuh perhatian.
“Kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar Papua Barat dengan orang tua kami yang ada di sini. Jamuan syukur sekaligus perpisahan ini adalah sesuatu yang tidak semua kontingen rasakan dan kami sangat bersyukur untuk itu,” katanya.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada masyarakat Sorong Raya di Papua Barat, warga sekitar Asrama Mansinam, Jemaat Petrus Amban, serta para Liaison Officer (LO) yang selama dua pekan memberikan pendampingan kepada seluruh anggota kontingen.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Origenes Ijie, mengaku bangga melihat capaian Papua Barat Daya yang dinilainya mampu bersaing dengan provinsi-provinsi yang telah lebih dahulu mengikuti Pesparawi Nasional.
“Papua Barat Daya adalah provinsi termuda atau anak bungsu, tetapi mampu menunjukkan kekuatan besar dengan menjadi juara kedua. Tugas kami sebagai orang tua angkat tidak sia-sia karena anak-anak Papua masih terus bernyanyi dan menghasilkan prestasi nyata,” ujarnya.
Origenes menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras seluruh kontingen yang disertai penyertaan Tuhan. Ia menyebut pencapaian runner-up menjadi bukti bahwa Papua Barat Daya memiliki potensi besar untuk terus berkembang pada ajang Pesparawi di masa mendatang.
Meski demikian, ia juga menyampaikan sejumlah catatan evaluasi. Salah satunya terkait penggunaan satu dirigen yang menangani dua kontingen dari provinsi berbeda. Menurutnya, kondisi tersebut memengaruhi efektivitas pembinaan karena metode latihan yang diterapkan tidak dapat dilakukan secara optimal.
“Ada satu dirijen yang melatih dua provinsi sekaligus. Satu dilatih secara langsung, sementara yang lain melalui pertemuan virtual atau Zoom. Ini tentu memengaruhi hasil pada beberapa kategori, termasuk vokal grup,” ungkapnya.
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran agar Papua Barat Daya dapat melakukan persiapan yang lebih matang menuju Pesparawi Nasional berikutnya dan mampu meraih prestasi yang lebih tinggi.
Selain mengevaluasi pembinaan kontingen, Origenes juga menilai penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV memberikan dampak positif bagi Kota Manokwari. Menurutnya, suasana kota selama pelaksanaan kegiatan berlangsung lebih tertib, aman, dan kondusif.
“Saya bahkan menyampaikan dalam rapat evaluasi panitia bahwa selama Pesparawi berlangsung, hampir tidak terdengar kasus jambret maupun begal. Kota ini terasa lebih damai karena kehadiran Tuhan melalui puji-pujian yang dinaikkan selama kegiatan berlangsung,” katanya.
Acara syukuran ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas seluruh proses yang telah dilalui. Kontingen Papua Barat Daya dijadwalkan kembali ke Sorong pada Selasa (30/6/2026), dengan membawa kebanggaan sebagai salah satu kontingen terbaik pada Pesparawi Nasional XIV serta mempererat ikatan persaudaraan antara Papua Barat dan Papua Barat Daya.
“Secara administrasi kita mungkin telah terpisah, tetapi Papua Barat tetap menjadi orang tua bagi Papua Barat Daya,” tutup Origenes Ijie.



