Manokwari, Beritakasuari.com – Tim ilmuwan internasional berhasil menemukan kembali dua spesies marsupial yang sebelumnya diyakini telah punah sekitar 6.000 tahun lalu di kawasan hutan terpencil Papua Barat. Penemuan tersebut mengakhiri pencarian ilmiah yang berlangsung selama hampir tiga dekade sejak petunjuk awal mengenai keberadaan satwa tersebut pertama kali muncul pada 1999.
Dua spesies yang ditemukan kembali tersebut adalah glider ekor cincin dan possum jari panjang kerdil, mamalia berkantung yang selama ini hanya diketahui melalui catatan fosil dari masa zaman es. Keberadaan mereka kembali terdeteksi melalui ekspedisi penelitian yang dilakukan di wilayah hutan hujan pedalaman Semenanjung Vogelkop atau Kepala Burung.
Pemimpin penelitian dari Australian Museum, Tim Flannery, menjelaskan bahwa kawasan Vogelkop memiliki sejarah geologi yang sangat tua dan memiliki hubungan dengan daratan kuno Australia.
“Vogelkop adalah bagian kuno dari benua Australia yang telah menjadi bagian dari Pulau Papua,” ujar Flannery dalam keterangannya yang dikutip dari Live Science.
Ia menambahkan bahwa kawasan hutan di wilayah tersebut kemungkinan masih menyimpan banyak spesies peninggalan dari masa lalu yang belum teridentifikasi oleh ilmu pengetahuan.
“Hutan-hutannya mungkin menyimpan lebih banyak lagi peninggalan tersembunyi dari Australia masa lalu,” lanjutnya.
Wilayah Semenanjung Vogelkop diketahui memiliki karakteristik ekologi yang unik dan relatif masih terjaga. Hutan hujan yang terpencil di kawasan tersebut menjadi tempat perlindungan alami bagi berbagai spesies langka yang selama ini sulit dijangkau oleh aktivitas manusia maupun penelitian ilmiah.
Dalam kajian ilmiah, dua spesies yang ditemukan kembali tersebut dikategorikan sebagai “Lazarus taxa”, yakni organisme yang muncul kembali setelah lama diyakini telah punah dan tidak terdeteksi dalam catatan ilmiah selama ribuan tahun.
“Penemuan satu takson Lazarus, meskipun diyakini telah punah baru-baru ini, merupakan penemuan yang luar biasa,” kata Flannery.
“Namun, penemuan dua spesies yang diyakini telah punah ribuan tahun yang lalu, sungguh luar biasa,” tambahnya.
Keberhasilan ekspedisi ini juga tidak terlepas dari peran penting masyarakat adat yang selama ini menjaga kelestarian hutan di wilayah tersebut. Tim peneliti bekerja sama dengan para tetua dari suku Tambrauw dan Maybrat untuk menelusuri keberadaan mamalia berkantung tersebut.
Bagi masyarakat adat setempat, glider ekor cincin bahkan dianggap sebagai makhluk yang memiliki nilai sakral sehingga diyakini harus mendapatkan perlindungan hukum tertinggi untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Meskipun kedua spesies tersebut telah berhasil ditemukan kembali, para ilmuwan memilih untuk tidak mempublikasikan lokasi koordinat pasti penemuan tersebut. Keputusan ini diambil untuk menghindari ancaman perburuan liar maupun perdagangan satwa ilegal yang sering menargetkan spesies langka.
Menurut para peneliti, temuan tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kawasan hutan yang masih alami di Papua Barat sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.
“Temuan ini menekankan pentingnya menjaga kawasan bioregion unik ini dan nilai penelitian kolaboratif dalam mengungkap dan melindungi keanekaragaman hayati yang tersembunyi,” ujar Flannery.
Penemuan dua marsupial yang diyakini telah punah selama ribuan tahun ini juga menarik perhatian komunitas ilmiah internasional. Keberadaan mereka menjadi bukti bahwa masih banyak spesies yang belum sepenuhnya terungkap di hutan tropis yang relatif belum tersentuh eksplorasi.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas penebangan hutan dan tekanan terhadap ekosistem alami membuat kelestarian habitat di Papua Barat semakin menjadi perhatian global. Para ilmuwan menilai upaya konservasi yang melibatkan masyarakat lokal menjadi faktor kunci untuk memastikan spesies unik tersebut dapat terus bertahan.
Dengan perlindungan habitat yang kuat serta kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat adat, harapan untuk menjaga keberadaan “fosil hidup” tersebut tetap terbuka sehingga mereka tidak kembali menghilang dari bumi untuk kedua kalinya.



