Manokwari, Beritakasuari.com – Penyelidikan kasus pembunuhan seorang pelajar SMA berinisial FR (18) di kawasan Pantai Petrus Kafiar, Manokwari, mulai menunjukkan perkembangan. Kepolisian Resor Kota Manokwari, Papua Barat, menyatakan telah mengantongi sejumlah nama yang diduga memiliki keterkaitan dengan peristiwa penyerangan yang berujung pada kematian korban tersebut.
Tim penyidik saat ini masih melakukan pendalaman terhadap informasi yang diperoleh di lapangan. Meskipun beberapa identitas telah diketahui, pihak kepolisian belum dapat mengungkapkan secara terbuka karena proses penyelidikan masih berlangsung.
Kasat Reskrim Polresta Manokwari AKP Agung Gumara Samosir menjelaskan bahwa penyidik bergerak cepat setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi peristiwa. Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mengindikasikan bahwa pelaku penyerangan kemungkinan hanya satu orang.
Dalam proses penyelidikan tersebut, polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti penting yang diyakini dapat membantu mengungkap keberadaan pelaku. Bukti-bukti tersebut kini sedang dianalisis untuk memperkuat petunjuk mengenai identitas pelaku yang saat ini masih dalam pengejaran.
“Pelaku menendang kursi tempat korban duduk. Saat korban laki-laki bertanya, ‘Kakak, saya salah apa?’, pelaku langsung memukul menggunakan balok kayu. Ketika korban perempuan berteriak meminta pertolongan, pelaku juga memukul dan menendangnya. Korban perempuan juga mengaku sempat mengalami pelecehan, namun hal itu masih kami dalami,” ujar Agung kepada wartawan.
Peristiwa tragis tersebut terjadi ketika korban sedang berada di pinggir Pantai Petrus Kafiar bersama seorang rekan perempuan berinisial SAP (15). Kedua pelajar itu diketahui sedang duduk sambil menunggu waktu berbuka puasa sebelum pelaku datang dan melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
Pelaku kemudian menyerang korban menggunakan balok kayu hingga menyebabkan luka fatal. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal dari pihak rumah sakit, korban diduga meninggal dunia akibat cedera berat pada bagian leher.
“Untuk penyebab kematian, berdasarkan hasil visum dari pihak rumah sakit kemungkinan besar leher korban patah. Rencana autopsi sebenarnya ada, namun keluarga korban tidak berkenan dilakukan autopsi karena menurut mereka penyebab kematian sudah jelas,” jelasnya.
Selain melakukan kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia, pelaku juga diduga mengambil barang milik korban. Polisi menerima laporan bahwa ponsel dan dompet milik korban hilang setelah kejadian tersebut.
Saat ini aparat kepolisian terus melakukan penyisiran di sejumlah wilayah di sekitar Manokwari untuk mempersempit ruang gerak pelaku. Tim buser dikerahkan guna mempercepat proses penangkapan terhadap terduga pelaku yang diyakini masih berada di sekitar wilayah tersebut.
Kepolisian juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan serta mencegah terjadinya tindak kriminal serupa di masa mendatang.
“Pada prinsipnya pola pikir kriminal itu yang harus kita ubah. Jangan karena melihat kesempatan lalu muncul niat melakukan kejahatan. Mari kita jaga bersama ketertiban dan keamanan karena ketertiban itu juga tercipta dari kita semua sebagai masyarakat,” tutup Agung.
Penyelidikan terhadap kasus ini masih terus berlanjut. Polisi menegaskan akan mengungkap seluruh rangkaian kejadian secara menyeluruh guna memastikan pelaku dapat segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.



