Jakarta, Beritakasuari.com – Poco kembali mengejutkan industri mobile dengan memperkenalkan F8 Series yang membawa peningkatan besar di sektor audio. Untuk pertama kalinya, Poco menggandeng Bose, perusahaan audio legendaris asal Amerika Serikat, untuk menanamkan sistem speaker 2.1 channel lengkap dengan subwoofer fisik yang disesuaikan agar tetap muat dalam bodi smartphone. Langkah ini menjadi perubahan besar bagi lini produk Poco yang selama ini mengedepankan performa, sekaligus menandai upaya serius untuk mengangkat standar audio smartphone yang dinilai tidak banyak berubah dalam dua dekade terakhir.
Kang Lou selaku Senior Product Marketing Manager Poco Global menjelaskan bahwa fokus pada audio lahir dari kebutuhan nyata para pengguna modern yang menghabiskan waktu panjang untuk menonton video dan bermain gim. “Audio adalah fondasi pengalaman multimedia, dan kami ingin menembus batas yang selama ini diabaikan,” ujarnya saat peluncuran Poco F8 Series di Bali. Menurutnya, Bose dipilih bukan sekadar karena popularitas, tetapi karena reputasinya dalam riset psychoacoustic serta kemampuannya memadatkan suara hi-fi ke ruang yang sangat kecil—keunggulan yang mereka kembangkan selama lebih dari 60 tahun.
Sistem audio baru Poco F8 Ultra memanfaatkan konfigurasi 2.1 channel, gabungan dua speaker stereo dan sebuah subwoofer tipis yang belum pernah digunakan Poco sebelumnya. Subwoofer khusus ini menjadi sumber frekuensi rendah yang selama ini sulit dicapai smartphone konvensional. Agar kualitasnya terjaga, Poco merancang pelindung debu berisi 300 lubang mikro dan memasang driver full-range pada speaker atas dan bawah. Dua mode tuning dari Bose, yaitu Dynamic dan Balanced, juga disertakan agar pengguna dapat memilih karakter suara yang paling sesuai.
Dalam sesi teknis, Stanley Yeh selaku Chief Audio Engineer Poco Global menyampaikan pandangan kritis mengenai kondisi audio smartphone yang menurutnya “masih terdengar seperti era 90-an”. Ia menilai bahwa meski teknologi musik telah berkembang hingga high-definition, speaker ponsel tetap menghasilkan suara yang datar karena tidak mampu menciptakan bass sesungguhnya. Tantangan terbesar terletak pada reproduksi frekuensi rendah, di mana panjang gelombang 100 Hz jauh lebih besar dari ruang di dalam ponsel. Untuk menanganinya, Poco dan Bose merombak perangkat keras serta perangkat lunak secara menyeluruh.
Poco menggunakan bass speaker slim setara dua cone dengan ketebalan hanya 2 mm. Desain ini memungkinkan performa bass 30% lebih dalam dibanding speaker smartphone pada umumnya. Tiga amplifier khusus ditanamkan untuk menggerakkan setiap komponen suara, sementara jalur pemrosesan Dolby Atmos dioptimalkan agar bekerja tanpa hambatan yang biasanya menyebabkan distorsi. Poco juga menghadirkan fitur AI-adjusted bass yang mampu mengatur bass secara real-time agar tetap stabil pada volume rendah maupun konten yang memiliki dinamika tinggi.
Sistem audio baru ini dapat memperluas jangkauan bass hingga 150 Hz, angka yang sebelumnya sangat sulit dicapai perangkat mobile. Poco dan Bose turut mengembangkan fine-grained dynamic synchronization, sebuah penyesuaian respons audio berdasarkan karakter pendengaran manusia, sehingga suara terasa lebih alami dan imersif. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk menghadirkan bass yang kaya, detail suara yang lebih halus, dan vokal yang jernih pada berbagai skenario seperti musik, film, maupun gaming.
Stanley Yeh menyebut langkah ini sebagai awal dari upaya menyatukan kualitas musik modern dengan kemampuan perangkat mobile. Menurutnya, ponsel seharusnya tidak hanya menjadi alat pemutar suara, tetapi mampu menghadirkan pengalaman audio layaknya konser mini yang dapat dibawa ke mana saja. Dengan kolaborasi ini, Poco F8 Series menandai era baru audio smartphone, di mana speaker bukan lagi komponen pelengkap, melainkan pusat pengalaman multimedia yang dibuat untuk benar-benar dinikmati.



