25.9 C
Manokwari
Monday, February 2, 2026

PAPPRI Papua Barat Angkat Musik Tradisional di Hari Musik

Must read

Manokwari, Beritakasuari.com – Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Papua Barat menegaskan komitmennya untuk membangkitkan kembali eksistensi musik tradisional yang kian terpinggirkan oleh dominasi musik modern. Upaya tersebut akan diwujudkan melalui panggung peringatan Hari Musik Nasional yang direncanakan digelar di Manokwari, dengan fokus utama pada penyelamatan aset budaya daerah.

Ketua PAPPRI Papua Barat, Roberth KR Hammar, menyampaikan bahwa perubahan selera generasi muda menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan musik tradisional. Menurutnya, kekayaan nilai budaya yang terkandung dalam musik etnik Papua Barat perlu terus dihidupkan agar tidak tergerus arus zaman.

“Kita melihat sekarang ini banyak musik tradisional yang sudah mulai jarang dilirik. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada musik kontemporer dan modern. Padahal, musik tradisional kita sangat kaya dan memiliki nilai budaya yang tinggi,” ujar Roberth, Sabtu (31/1/2026).

Peringatan Hari Musik Nasional ini dirancang berlangsung selama kurang lebih tiga jam dengan menghadirkan ragam pertunjukan musik etnik hingga karya-karya kreasi baru. Melalui konsep tersebut, PAPPRI ingin memastikan bahwa musik tradisional tetap mendapatkan ruang berekspresi di tengah perkembangan tren musik kontemporer yang semakin masif.

“Kami dari delapan persatuan artis penyanyi dan pelaku seni di Papua Barat akan mengadakan event sekitar tanggal 9 Maret. Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi kami dalam memperingati Hari Musik Nasional,” jelasnya.

Selain menjadi panggung apresiasi, kegiatan ini juga diproyeksikan sebagai ruang konsolidasi bagi para musisi lokal untuk menampilkan identitas dan keberagaman budaya Papua Barat. Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas antarpelaku seni agar ekosistem musik daerah dapat tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.

Roberth menegaskan bahwa agenda ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. PAPPRI Papua Barat berkomitmen menindaklanjuti peringatan tersebut dengan mendorong lahirnya regulasi daerah yang berpihak pada kemajuan kebudayaan, mengingat hingga kini payung hukum terkait perlindungan seni dan budaya di tingkat provinsi maupun kabupaten masih sangat terbatas.

“Ke depan, kami ingin kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai seremoni saja. Kami akan menindaklanjuti dengan mendorong lahirnya peraturan daerah tentang kemajuan kebudayaan,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan regulasi yang jelas menjadi faktor krusial dalam menjamin perlindungan karya, kesejahteraan pelaku seni, serta pengembangan ekosistem musik daerah yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Kalau ada payung hukum yang jelas, maka perlindungan terhadap karya, kesejahteraan pelaku seni, serta pengembangan ekosistem musik daerah bisa lebih terarah,” tuturnya.

Saat ini, PAPPRI Papua Barat juga tengah membangun komunikasi intensif dengan Kementerian Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif serta pemerintah daerah guna menyinergikan teknis pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menyelaraskan program pusat dan daerah dalam upaya pengembangan kebudayaan.

“Kami ingin kegiatan ini terhubung dengan program pemerintah, baik di pusat maupun daerah. Musik bukan hanya soal hiburan, tapi bagian penting dari kebudayaan dan identitas daerah,” ucap Roberth.

Langkah ini dinilai sebagai awal penguatan posisi seniman dalam kerangka pembangunan kebudayaan di Papua Barat. Peringatan Hari Musik Nasional pada 9 Maret mendatang diharapkan menjadi titik balik kebangkitan ekosistem musik lokal sekaligus penegasan bahwa musik tradisional tetap relevan di tengah perubahan zaman.

“Harapan kami sederhana, musik tradisional tidak hilang ditelan zaman, dan para pelaku seni mendapatkan tempat yang layak dalam sistem kebudayaan kita,” pungkasnya.

More articles

Latest article