Fakfak, Beritakasuari.com – Warga Kampung Arguni di Papua Barat dibuat terkejut dengan kehadiran kapal bernomor lambung 869 yang berlabuh di perairan mereka. Kapal yang diduga milik TNI Angkatan Laut itu muncul di tengah aksi pemasangan sasi laut sebagai bentuk protes adat atas aktivitas perusahaan pengelola gas di wilayah tersebut.
Sekretaris LMA Mbarmbar, S Dino Sarasa, mempertanyakan maksud kehadiran kapal tersebut. “Kapal berlabuh di depan Kampung Arguni. Ini maksudnya apa?” ujarnya, Sabtu (14/2/2026). Ia menyebut situasi tersebut sebagai peristiwa yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Dino, momen ini mengingatkan warga pada periode operasi militer masa lalu. “Ini baru pertama mungkin sejak perebutan Irian Barat kapal perang ada di depan kampung,” katanya, merujuk pada konteks sejarah yang pernah berlangsung di kawasan itu.
Ia berharap kehadiran aparat tidak berkaitan dengan upaya warga memperjuangkan hak petuanan laut. “Semoga tak ada kaitannya dengan perjuangan masyarakat terhadap hak petuanan yang belum dibicarakan secara baik sehingga dilakukan pemasangan sasi,” ucapnya. Ia menegaskan tuntutan masyarakat murni menyangkut hak adat, bukan agenda politik. “Kita ini tuntut hak, bukan kita tuntut merdeka,” tuturnya.
Di sisi lain, Raja Petuanan Arguni, Hanafi Pauspaus, menjelaskan bahwa pemasangan sasi merupakan keputusan kolektif karena perusahaan dinilai beroperasi tanpa persetujuan adat. “Itu merupakan keputusan bersama masyarakat agar meminta pihak perusahaan pengelolah gas datang duduk bersama masyarakat membicarakan apa yang menjadi hak dan kewajiban bersama,” jelasnya.
Hanafi juga mengaku kecewa atas tudingan yang diarahkan kepada masyarakat. “Kami kaget disebut sebagai bajak laut, padahal kami berjuang atas hak wilayah kami,” katanya. Warga menegaskan tidak menolak investasi, namun menghendaki dialog terbuka yang menghormati adat dan hak ulayat di wilayah Teluk Arguni.



