25.1 C
Manokwari
Wednesday, January 7, 2026

Inflasi Papua Barat dan Papua Barat Daya Naik Akhir 2025

Must read

Manokwari, Beritakasuari.com – Dua provinsi di wilayah Tanah Papua kembali mencatatkan tekanan inflasi pada akhir tahun 2025. Papua Barat dan Papua Barat Daya sama-sama mengalami kenaikan harga secara tahunan, meski dengan besaran yang berbeda, seiring meningkatnya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi year on year di Papua Barat pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,59 persen. Dalam laporan resminya yang dirilis Selasa (6/1/2026), BPS menyebutkan, “Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya hampir seluruh indeks kelompok pengeluaran.” Sejalan dengan itu, Indeks Harga Konsumen Papua Barat berada pada level 110,74.

Kenaikan harga di Papua Barat didorong oleh beberapa kelompok pengeluaran dengan persentase tertinggi, terutama sektor transportasi yang meningkat hingga 6,79 persen. Selain itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami kenaikan sebesar 6,53 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 6,43 persen. BPS juga mencatat adanya kenaikan harga pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 4,63 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 2,28 persen.

Dari sisi pergerakan bulanan dan kumulatif, tekanan inflasi di Papua Barat masih terjaga dalam rentang moderat. “Tingkat inflasi month to month (m-to-m) dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) Papua Barat Desember 2025 masing-masing sebesar 1,60 persen dan 2,59 persen,” lapor BPS.

Sementara itu, Papua Barat Daya juga mencatatkan inflasi tahunan meski dengan angka yang lebih rendah. Inflasi y-on-y di provinsi tersebut tercatat sebesar 2,15 persen dengan Indeks Harga Konsumen berada pada level 107,62. Kota Sorong menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di Papua Barat Daya, yakni mencapai 2,27 persen.

Menurut BPS, kenaikan harga di Papua Barat Daya terutama dipicu oleh meningkatnya indeks pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. “Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,18 persen,” tulis BPS dalam laporannya. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut mengalami kenaikan signifikan sebesar 4,50 persen, sedangkan sektor transportasi meningkat 2,71 persen.

Dari sisi pergerakan harga bulanan, Papua Barat Daya mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,65 persen, sementara inflasi sejak awal tahun atau year to date tercatat sebesar 2,15 persen. “Papua Barat Daya Desember 2025 mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,65 persen dan inflasi y-to-d sebesar 2,15 persen,” tulis BPS.

Secara umum, kenaikan harga pada sektor transportasi dan kebutuhan pokok menjadi faktor utama pendorong inflasi di dua provinsi tersebut pada penghujung tahun. Kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mencermati pergerakan harga kebutuhan rumah tangga, khususnya memasuki awal tahun baru.

More articles

Latest article