26.7 C
Manokwari
Friday, February 13, 2026

HPN 2026 SMSI Telusuri Jejak Multatuli di Lebak

Must read

Lebak, Beritakasuari.com – Rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) berlanjut dengan kunjungan edukatif ke Museum Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten. Agenda ini menjadi bagian penting dari penguatan literasi sejarah bagi insan pers, dengan menelusuri jejak pemikiran kritis Eduard Douwes Dekker yang dikenal melalui nama pena Multatuli.

Ratusan peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota SMSI hadir dalam kegiatan tersebut. Rombongan dipimpin Sekretaris Jenderal SMSI Makali Kumar, didampingi Dewan Penasihat SMSI Pusat Moh Nasir dan Ketua SMSI Provinsi Banten Lesman Bangun. Kehadiran mereka disambut Pemerintah Kabupaten Lebak melalui perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika.

Dalam sambutannya, Makali menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan ruang refleksi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberpihakan pada kebenaran yang relevan dengan praktik jurnalistik profesional. “Di Lebak ini, sarat dengan nilai sejarah dan perjuangan lewat pena yang dilakukan Multatuli yang anti monopoli, kapitalisasi dan penindasan lewat buku autobiografi sastranya,” ujarnya.

Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, merupakan pejabat kolonial Belanda yang pernah bertugas sebagai Asisten Residen Banten pada 1856. Pengalaman menyaksikan praktik ketidakadilan dan penindasan terhadap rakyat pribumi mendorongnya mengundurkan diri. Ia kemudian menulis karya monumental berjudul Max Havelaar pada 1860 di Belgia, yang mengguncang opini publik Eropa dan membuka mata dunia terhadap praktik tanam paksa di Hindia Belanda.

“Multatuli yang bukan orang Indonesia saat itu berani menyuarakan anti monopoli, penindasan dan ketidakadilan. Maka di HPN 2026 ini, semangat Multatuli itu patut terus kita kobarkan demi pers sehat, ekonomi berdaulat, bangsa kuat,” tegas Makali.

Sebelum memasuki ruang pamer, peserta memperoleh pemaparan mengenai sejarah dan perjalanan SMSI sebagai organisasi media siber nasional. Selanjutnya, rombongan diajak menelusuri setiap sudut museum yang menampilkan arsip kolonial, ilustrasi sejarah, dokumen administrasi, hingga diorama sosial-politik masa penjajahan. Penjelasan disampaikan langsung oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Multatuli, Lia Havila, yang memaparkan latar belakang pemikiran kritis Multatuli.

Menurut Lia, nilai-nilai yang diperjuangkan Multatuli memiliki relevansi kuat dengan semangat pers modern. “Nilai-nilai yang diperjuangkan Multatuli sangat relevan dengan semangat pers, yakni menyuarakan kebenaran, membela kemanusiaan, dan mengkritisi ketidakadilan,” jelasnya di hadapan peserta.

Antusiasme peserta terlihat saat menyimak paparan sejarah sekaligus merefleksikan peran pers sebagai kontrol sosial yang independen. Setiap artefak dan dokumen menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan dapat ditempuh melalui kekuatan gagasan dan tulisan.

Kunjungan ke Museum Multatuli ini mempertegas bahwa HPN 2026 SMSI tidak hanya berorientasi pada seremoni, tetapi juga memperkaya dimensi intelektual dan etis insan pers. Melalui refleksi sejarah, peserta diharapkan semakin teguh menjalankan fungsi jurnalistik secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab demi kepentingan publik serta penguatan demokrasi.

More articles

Latest article