Manokwari, Beritakasuari.com – Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari terus memperkuat strategi pengendalian Tuberkulosis yang hingga kini masih menunjukkan angka penularan cukup tinggi di Manokwari. Sepanjang tahun 2026, tercatat 245 kasus TBC sensitif obat dan 9 kasus TBC resisten obat berhasil diidentifikasi oleh tenaga kesehatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Marthen Rantetampang, menegaskan bahwa kunci utama dalam mengendalikan penyebaran penyakit ini terletak pada konsistensi pasien dalam menjalani pengobatan serta kesadaran untuk mencegah penularan di lingkungan terdekat.
“Pasien yang sudah terdiagnosis harus menjaga agar tidak menularkan ke orang lain, minimal di dalam rumah. Gunakan masker dan, bila memungkinkan, tidak tidur bersama anggota keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, tingkat pemahaman masyarakat mengenai mekanisme penularan TBC sangat menentukan efektivitas pengendalian. Tanpa kesadaran yang memadai, upaya medis yang dilakukan tidak akan optimal. Ia mengingatkan bahwa TBC bukan penyakit ringan karena dapat merusak kondisi tubuh secara bertahap apabila tidak ditangani dengan benar.
Pendekatan pencegahan yang dianjurkan pun serupa dengan praktik saat pandemi, di mana penggunaan masker serta penerapan etika batuk menjadi langkah sederhana namun efektif dalam melindungi orang lain dari paparan bakteri.
Selain itu, perhatian serius diarahkan pada kasus TBC resisten obat yang muncul akibat ketidakpatuhan dalam terapi. Ketika pasien menghentikan konsumsi obat sebelum waktunya, bakteri dapat berkembang menjadi kebal sehingga proses penyembuhan menjadi lebih kompleks dan memerlukan waktu lebih lama.
“Jika pengobatan tidak teratur, kuman bisa menjadi resisten. Ini berbahaya karena pengobatan selanjutnya akan jauh lebih sulit,” jelasnya.
Untuk memastikan keberlanjutan pengobatan, Dinas Kesehatan mengambil langkah strategis dengan menjalin kerja sama lintas wilayah guna menjaga ketersediaan obat. Selain itu, stok cadangan dari tingkat provinsi dimanfaatkan untuk menjamin kebutuhan terapi dalam beberapa bulan ke depan tetap terpenuhi.
Di sisi lain, fasilitas pelayanan kesehatan terus meningkatkan upaya skrining guna mendeteksi kasus secara lebih dini. Strategi ini diyakini mampu mempercepat penanganan sekaligus memutus rantai penularan di tengah masyarakat.
Dengan kombinasi edukasi, kedisiplinan pasien, serta dukungan logistik yang memadai, pemerintah daerah optimistis dapat menekan laju penyebaran TBC secara bertahap dan berkelanjutan.



