Manokwari, Beritakasuari.com – Sebanyak empat warga binaan beragama Katolik di Lapas Perempuan Kelas III Manokwari mengikuti Misa Rabu Abu pada Rabu (18/2/2026) pukul 20.30 WIT di gereja lapas setempat. Perayaan berlangsung dalam suasana hening dan khidmat, menandai awal Masa Prapaskah yang menjadi periode refleksi dan pertobatan dalam tradisi Gereja Katolik.
Misa dipimpin oleh Romo E. Kombia yang dalam homilinya menekankan makna abu sebagai lambang kerendahan hati serta kesadaran akan panggilan untuk berubah. “Abu yang kita terima hari ini mengingatkan bahwa hidup adalah kesempatan untuk berubah. Tuhan selalu membuka pintu pengampunan bagi siapa saja yang mau kembali,” ungkapnya di hadapan umat yang hadir. Pesan tersebut menjadi peneguhan bahwa setiap pribadi, tanpa memandang latar belakang, memiliki peluang yang sama untuk memperbarui diri.
Prosesi penerimaan abu di dahi menjadi momen kontemplatif bagi para warga binaan. Tindakan simbolik itu bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat akan tanggung jawab moral untuk menjalani pembinaan dengan sikap yang lebih terbuka dan komitmen yang diperbarui. Di balik tembok pembatas kebebasan, semangat pembaruan batin justru menemukan ruang yang lebih mendalam untuk bertumbuh.
Kepala Lapas Perempuan Kelas III Manokwari, Lince Bela, menegaskan bahwa pemenuhan hak beribadah merupakan bagian integral dari pembinaan kepribadian. “Kami memastikan setiap warga binaan mendapatkan haknya untuk beribadah. Momentum Rabu Abu ini menjadi ruang refleksi agar mereka semakin kuat secara spiritual dan siap menjalani proses pembinaan dengan penuh harapan,” ujarnya. Komitmen tersebut sejalan dengan pendekatan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aspek kedisiplinan, tetapi juga penguatan mental dan spiritual.
Salah satu warga binaan berinisial P mengaku bersyukur dapat mengikuti misa tersebut. Ia merasakan ketenangan sekaligus dorongan untuk memperbaiki diri. “Saya merasa lebih tenang dan diingatkan untuk memperbaiki diri. Misa ini memberi saya semangat baru untuk berubah menjadi lebih baik,” tuturnya dengan penuh harap.
Perayaan Rabu Abu di lingkungan pemasyarakatan ini mencerminkan bahwa proses pembinaan tidak terlepas dari dimensi spiritual. Masa Prapaskah menjadi momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan optimisme dalam menapaki proses perubahan. Di tengah keterbatasan ruang gerak, semangat pertobatan dan harapan tetap menemukan tempat untuk tumbuh dan menguatkan langkah menuju kehidupan yang lebih baik.



