27.3 C
Manokwari
Thursday, February 5, 2026

RAM Melonjak, Laptop Baru Terancam Kenaikan Harga

Must read

Jakarta, Beritakasuari.com – Lonjakan harga RAM dalam beberapa bulan terakhir membuat banyak konsumen mulai menunda rencana merakit PC, sementara mereka yang ingin membeli laptop baru justru disarankan untuk segera melakukan pembelian sebelum harga perangkat ikut terkerek naik. Laporan dari TrendForce mengungkap bahwa sebagian besar produsen laptop kini mempertimbangkan penyesuaian harga karena biaya RAM yang terus meningkat dan berpotensi menambah ongkos produksi secara signifikan.

Lenovo disebut telah memberi sinyal kepada jaringan ritel bahwa harga perangkat mereka akan berubah mulai 1 Januari 2026, berdasarkan informasi yang beredar di kalangan industri. Perubahan ini berarti para peritel akan menerima daftar harga baru yang pada akhirnya berdampak langsung pada konsumen yang ingin membeli laptop atau desktop di awal tahun mendatang. Tidak hanya Lenovo, HP dan Dell pun dikabarkan tengah mempertimbangkan strategi harga yang sama. Media Chosun Ilbo dari Korea Selatan melaporkan bahwa dua produsen tersebut bahkan sedang meninjau ulang lini produk mereka hanya beberapa pekan menjelang gelaran CES 2026.

CEO HP, Enrique Lores, mengungkapkan bahwa RAM menyumbang sekitar 15–20 persen dari total biaya sebuah PC. Tekanan harga semakin diperkuat oleh tren penggunaan teknologi AI pada perangkat konsumen, termasuk hadirnya laptop berbasis Microsoft Copilot+ yang membutuhkan kapasitas RAM minimum 16GB untuk menjalankan pemrosesan AI secara lokal. Permintaan RAM yang semakin besar ini membuat ongkos produksi melonjak dan berpotensi memicu penyesuaian harga lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Menurut sumber TrendForce, Dell diperkirakan akan menaikkan harga perangkatnya sekitar 15–20 persen pada pertengahan Desember. Juru bicara Dell menegaskan bahwa perusahaan menerapkan kebijakan harga yang lebih terarah untuk memastikan keberlanjutan pasokan komponen dan menjaga komitmen pelayanan kepada pelanggan.

Peningkatan harga RAM yang drastis terutama dipicu oleh kelangkaan pasokan DRAM dan NAND, dua jenis memori utama yang digunakan pada perangkat konsumen. Di sisi lain, perusahaan semikonduktor besar seperti Samsung dan SK Hynix kini lebih memfokuskan kapasitas produksinya ke high bandwidth memory (HBM) yang digunakan untuk pusat data dan sistem AI berskala besar. Segmen HBM dianggap jauh lebih menguntungkan dibanding memori untuk komputer konsumen, sehingga produksi RAM reguler menjadi terabaikan.

Micron, salah satu produsen memori terbesar di dunia, bahkan menghentikan penjualan RAM melalui merek Crucial untuk memusatkan seluruh produksi pada kebutuhan pusat data. Pergeseran fokus industri inilah yang membuat ketersediaan RAM konsumen semakin terbatas, memicu kenaikan harga yang dianggap belum akan mereda dalam waktu dekat.

More articles

Latest article